ke tempat parkir, menanyakan apakah bisa menggunakan jalan darat menuju
Desa Terunyan. Bapak Parkir bilang kalau bisa menggunakan jalan darat
menuju desa Terunyan, namun unutk mencapai kuburan, memang harus
menggunakan speedboat. Tidak ada alternatif yang nyaman menuju jalan
kuburan melalui jalan darat kecuali merosot dari atas tebing.
Lumayan lama diam di Dermaga I karena harga penyeberangan cukup mahal.
Namun ada juga yang menawarkan dengan harga sedikit miring. Sampai
aklhirnya seorang kakek tua menyarankan untuk membeli tarif resmi di
loket saja. Hmm, memang diitung-itung dengan harga resmi kita bisa
merasakan aman dalam perjalanan (i hate water adventure) walaupun dengan
harga yang agak mahal (54.000,-/orang - kalau rombongan bisa lebih murah
lagi).
Akhirnya kita berangkat dari Dermaga I dengan rute ke Dermaga II Desa
Terunyan kemudian dilajutkan ke Dermaga III Kuburan Terunyan. Kita
sebagai tamu memang dibebaskan lama waktu untuk mengunjungi
tempat-tempat tersebut. Desa Terunyan menjadi tujuan hanyalah untuk
bersembahyang. Setelah melewati beberapa rumah, terkesan sudah modern
dan banyak terdapat kendaraan roda dua milik warga. Masih bingung dengan
asal muasal pendapatan mereka, jika dilihat dari kontur tanah yang hanya
bisa ditanamin beberapa produk sayuran.
Beberapa penduduk disana memang ramah sekali, cuman saya sedikit curiga
dengan keramahan tersebut. Jarang sekali melihat keramahan semacam itu
jika tidak ada niat dan tujuannya. Sudahlah, kecurigaan hanya perasaaan
negative saya yang coba saya anggap cobaan pada waktu sembahyang.
Setelah selesai sembahyang, akhirnya kita beranjak pergi. Saya merasakan
diri saya harus cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut karena saya
sudah sangat dihantui kecurigaan. Saking tergesa-gesanya, saya pun di
depan. Dan memang benar, dengan nada yang santai seseorang mendekati
saya dan menanyakan, apakah ada sesuatu yang bisa digunakan sebagai
bantuan untuk warga disana. Terjawab sudah. Karena saya tidak membawa
uang sepeserpun akhirnya saya bergeser ke belakang. Berbisik minta
sumbangan dan menyerahkan kepada Bendahara, sambil bergegas ke Dermaga
II sambil berguman, semoga masih banyak orang yang disana yang masih
bisa berbuat baik dan ramah tanpa harus mengharapkan sesuatu.
Ok. Saatnya menuju ke Dermaga III Kuburan Terunyan. Tidak sampai 5 menit
sudah sampai ke tempat tujuan. Memang masih ada peminta-minta, cuman ada
2 orang saja tidak seperti yang diceritakan pada masa lalu yang
jumlahnya banyak sekali.
Masuk ke tempat yang sekarang telah menjadi objek wisata, sudah disambut
oleh sang pramuwisata yang ramah pula. Keramahan yang sudah bisa
terbaca. Namuna ada juga sisi positifnya, kita mendapatkan informasi
tentang kuburan tersebut. Memang, mayat yang dikatakan baru 5 hari
tersebut tidak menyebarkan bau busuk sama sekali. Dikatakan bahwa pohon
taru menyan yang kita jumpai pertama kali dari gerbang yang menyerap bau
serta menebarkan aroma yang harum (perpaduan antara Kapur Bogus dan
Ambipur Car:).
Setelah beberapa menit disana, kita beranjak pulang. Sama halnya di desa
Terunyan, kita diminta untuk bersedekah disebuah tempat. Tempat tersebut
sudah terisi sejumlah uang dengan nominal yang sangat besar 50.000,-
Untunglah teman yang sudah berpengalaman kesana menganjurkan dan
mengatakan itu hanya uang pancingan agar kita bisa memberikan lebih atau
minimal sama dengan yang sudah ada. Pintar juga, amal saja terkadang ada
nilai harga dirinya :D
Karena nominal yang kita taruh sangat jauh sedikit jumalahnya dari yang
telah ada, sang pramuwisata pun bersilat lidah dengan meminta
punia/sedekah untuk dirinya agar bisa membeli rokok dan lain sebagainya.
Weleh, hanya saja karena memang tidak membawa uang sepeserpun, yah apa
mau dinyana.
Setelah itu kita meluncur kembali ke Dermaga I dari Demaga III. Sampai
Dermaga III sang navigator cilik masih sempat menanyakan uang ekstra
kembali, GRRRRRRRRRRRRRRR..... Perjalanan yang cukup melelahkan.
Rincian Biaya :
Parkir Dermaga I : Rp. 2.000,-
SpeedBoat : Rp 374.000,- ( 7 orang ) + Rp.54.000,- (Ekstra 1 orang)
Sumbangan di Desa Terunyan : Rp 20.000,-
Sumbangan di kuburan : Rp 5.000,-
Sumbangan pada pramuwisata : Rp 5.000,-
Sedekah ke peminta-minta : Rp 1.000,- x 2 orang
Sumbangan ke tukang pengusung tangga pelabuhan III : Rp 1.000,-
Sumbangan uang ekstra ke navigator cilik : Rp 1.000,-
Saran :
- Untuk lebih hemat menuju pemakaman, alangkah baiknya langsung menuju
pelabuhan (Dermaga II) di Desa Terunyan lewat jalan darat. Dari Dermaga
II Desa Terunyan ke Dermaga III Kuburan Terunyan tarifnya sekitar Rp
200.000,- untuk 1 boat.
- Persiapkan uang receh. Jangan pernah jaga gengsi untuk beramal
(nominal tidak masalah, yang penting rela).




Tidak ada komentar:
Posting Komentar